Wellcome and enjoy on my Blog

Free Premium Blogger Theme by NewBloggerThemes.com
01:43:00 | by romi poetra | Categories:
Jika anda menggunakan internet, maka dapat hampir dipastikan anda menggunakan DNS (Domain Name Server) tanpa anda menyadarinya. DNS adalah sebuah protokol standar yang digunakan dalam proses sebuah transaksi data internet atau jaringan privat yang berfungsi untuk menterjemahkan nama domain (misalnya fazar.net) menjadi alamat IP numerikal (misalnya 31.220.4.24). Apa perannya dalam hal konektivitas internet? Temukan jawabannya disini.

Pada prinsipnya, setiap perangkat yang terhubung ke internet harus berkomunikasi dengan menggunakan alamat IP. DNS sebagaimana yang dijelaskan diatas memiliki fungsi untuk menterjemahkan sebuah nama domain menjadi sebuah alamat IP internet (IP Address). Nama domain dibuat dengan konsep agar anda dapat lebih mengakses sebuah server atau perangkat yang terhubung ke internet tanpa harus mengetahui alamat IP nya, karena nama domain lebih mudah di ingat dan di hafal. Anda akan mudah mengingat fazar.net (domain) ketimbang 31.220.4.24 (alamat IP) bukan?

Apa yang terjadi jika tidak ada layanan DNS?
DNS pada internet sama seperti oksigen untuk manusia. Tanpa layanan DNS yang tersedia, maka dapat dipastikan anda tidak dapat melakukan aktifitas berinternet seperti browsing, chatting, mengirim email, dan sebagainya. Dengan kata lain internet menjadi tidak dapat diakses (alias mandeg).
Secara umum, DNS akan otomatis akan di setting pada saat anda melakukan dial/koneksi ke ISP tanpa anda perlu setting manual. Setting atau pengaturan DNS ini akan tersimpan didalam router atau modem yang menghubungkan anda ke internet. Dan biasanya, DNS yang diberikan oleh ISP berjumlah minimal 2 server DNS (primary dan secondary dns). Hal ini penting agar pada suatu kondisi DNS yang pertama mengalami kegagalan koneksi atau down, maka DNS kedua yang akan mengambil alih tugas untuk menterjemahkan nama domain/hostname menjadi alamat IP untuk anda.
Sebenarnya ada sebuah proses panjang yang terjadi pada saat anda memasukkan alamat sebuah web (misalnya google.com) kemudian menekan enter pada browser kesayangan anda. Secara kasarnya adalah sebagai berikut :
Pada saat anda mencoba mengakses google.com, komputer akan mengirimkan permintaan ke alamat IP mana akses google.com akan ditujukan (query) menggunakan DNS yang ditetapkan oleh ISP.
dns-1
Jika server DNS yang disediakan oleh ISP tidak mengetahui alamat IP dari google.com, maka server DNS tersebut akan melakukan query ke salah satu root DNS server. Saat ini terdapat 13 root DNS server  yang ada di dunia.
dns2
DNS ISP akan menerima dan menyimpan informasi alamat IP yang didapatnya dari root DNS
dns3
Selanjutnya, DNS ISP akan meneruskan informasi alamat IP ke komputer anda.
dns4
Komputer (lewat browser) akan menghubungi / mengakses alamat IP yang diberikan oleh DNS dan meminta halaman web.
dns5
Yang menjadikan hal ini luar biasa adalah dalam kondisi internet yang normal dan stabil keseluruhan proses ini terjadi hanya dalam hitungan sepersekian detik (milisecond).
Apakah kualitas DNS berhubungan dengan kecepatan akses internet?
Jawabannya : Bisa iya, bisa juga tidak. :)
Jika kualitas link internet anda bermasalah atau terjadi permasalahan teknis di sisi server DNS, maka proses query yang hanya membutuhkan waktu sepersekian detik dapat meningkat menjadi beberapa detik atau bahkan proses query menjadi gagal. Dalam kondisi demikian akses internet terutama web browsing akan terasa sangat lamban bahkan jika query gagal dilakukan anda akan tidak dapat browsing sama sekali. Sebaliknya, semakin cepat proses query berlangsung, semakin responsif pula akses internet yang anda gunakan.
Jika anda menggunakan DNS yang tidak tepat, maka pada saat mengakses situs-situs tertentu, koneksi anda akan terasa lebih lambat? Kenapa? Silakan temukan jawabannya pada tulisan berikutnya.

Secara default, ISP akan memberikan parameter setting DNS yang terbaik secara otomatis – biasanya ISP akan memberikan 2 DNS yang servernya berada di dalam network milik mereka. Dengan hal tersebut, diharapkan akses ke server DNS menjadi maksimal dari sisi klien.
Jika memang anda ingin memilih sendiri DNS yang akan anda gunakan, maka anda dapat melakukan tes sederhana untuk menentukan kualitas DNS yang akan anda pakai yaitu ping dan traceroute. Dalam contoh berikut ini, saya akan memperlihatkan tes ping dan traceroute pada DNS milik Telkom (202.134.0.155) dan DNS publik milik Google (8.8.8.8).
Tes pertama, menggunakan ping :
dns-ping
Pada tes ping, nilai latensi yang lebih rendah menandakan kualitas link yang lebih baik. Pada gambar diatas terlihat kisaran ping ke DNS telkom lebih baik hasilnya (antara 37 – 39 ms) ketimbang DNS milik Google (antara 68 – 71 ms).
Tes kedua, menggunakan traceroute :
dns-traceroute
Pada tes traceroute server dengan jumlah lompatan (hop) paling sedikit adalah yang terbaik. Terlihat akses ke DNS Telkom hanya membutuhkan 5 hops, sedangkan akses ke DNS Google membutuhkan 15 hops (terlihat ditempat saya terdapat timed out – this is bad), sehingga dalam hal ini akan lebih efisien jika saya menggunakan DNS Telkom.
Tidak puas dengan tes sederhana menggunakan ping dan traceroute? Tidak masalah. Anda dapat menggunakan tes DNS menggunakan utility kecil yang bernama namebench. Perlu waktu lama untuk melakukan pengetesan DNS dengan namebench, oleh sebab itu anda harus sabar (orang sabar disayang tuhan, hehehe..) jika melakukan benchmark dengan tool ini. namebench akan memberikan laporan lengkap dan rekomendasi 3 DNS tercepat dan terdekat yang dapat anda gunakan.
namebench

Dalam tes sederhana seperti diatas dapat disimpulkan bahwa DNS milik ISP (dalam hal ini saya menggunakan Telkom) secara teknis akan memberikan kinerja terbaik, akan tetapi disisi lain DNS milik ISP seperti Telkom biasanya dilengkapi dengan content filtering yang bertugas untuk menyaring akses ke situs-situs yang mengandung unsur pornografi, perjudian, phising, dan sebagainya.
Anda tentunya sudah sangat mengenal istilah Internet Positif, Nawala, atau sejenisnya :)
rage-ipositif
Dalam beberapa kasus, terkadang proses penyaringan dari DNS terdapat false positive yakni dimana kondisi situs yang saya akses diblokir padahal saya tidak mengakses situs yang (dianggap) terlarang. Oleh karena itu, jika anda menyukai “kebebasan” dalam mengakses internet, anda dapat mempertimbangkan untuk menggunakan DNS yang bukan ditentukan oleh ISP – walau pun kinerjanya tidak secepat dan se-efisien DNS milik ISP.

Content Delivery Networks (CDN) VS. DNS anda
Sebelumnya saya menuliskan bahwa pemilihan DNS yang tidak tepat akan mengakibatkan degradasi kecepatan akses alias lebih lambat jika mengakses situs-situs tertentu terutama situs yang menggunakan Content Delivery Networks (CDN) untuk mengantarkan konten statik (gambar, video, css, javascript dan sebagainya) ke klien yang mengakses situs mereka.
CDN adalah sebuah infrastruktur internet global yang terdiri dari ratusan server (biasa disebut nodes atau edges) tersebar diseluruh dunia yang bertugas untuk menyampaikan konten web pada pengunjung sebuah situs langsung dari server terdekat dengan lokasi si pengunjung tersebut. Hasilnya : browsing akan terasa lebih cepat.
cdn-graphic-example
Anda mungkin bertanya-tanya, apakah hubungan antara CDN dengan DNS? Anda perlu mengetahui bahwa hampir semua jaringan CDN yang ada pada saat ini menggunakan teknologi yang dinamakan Global Server Load Balancing (GSLB) untuk mengarahkan pengunjung web ke server terdekat secara geografis dengan server CDN. Sayangnya teknologi ini tidak dapat menentukan secara tepat posisi pengunjung tersebut pada saat pengunjung melakukan query / DNS lookup. CDN hanya akan berasumsi bahwa pengunjung menggunakan server DNS yang memiliki posisi terdekat dengan mereka secara geografis.
Mantap jika anda menggunakan DNS milik ISP, karena secara umum posisi server DNS ISP dekat dengan anda – karena CDN akan mengarahkan anda ke server yang terdekat DNS anda. Sedangkan jika anda menggunakan DNS yang posisinya berada dibelahan dunia lain, maka CDN juga akan mengarahkan anda untuk browsing ke server CDN yang posisinya jauh dari posisi anda.
Bayangkan jika anda menggunakan DNS Google, maka akses browsing anda akan diarahkan ke server CDN yang lokasinya di Amerika, tentu saja aksesnya akan menjadi lebih lamban. Berbeda jika anda menggunakan DNS ISP lokal, maka anda akan diarahkan ke server terdekat misalnya server CDN berlokasi di Jakarta atau maksimal ada di Singapura.
Ah… kan nggak semua situs pake CDN. Santai aja lah masbRo…
Betul, tidak semua situs menggunakan CDN, tapi apakah anda tahu bahwa situs seperti facebook, twitter, google, youtube dan situs-situs populer lainnya mengimplementasikan teknologi CDN yang akan lebih maksimal kecepatan aksesnya jika anda menggunakan DNS ISP lokal. :)

Referensi :
Reaksi: